PKBI NTB Atas Dukungan UNICEF Adakan Pelatihan WASH FIT yang Responsif GEDSI dan Berketahanan Iklim Pada 35 PUSKESMAS di Provinsi NTB

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp


Provinsi, NTB- “Di tahun 2024 ini, Pemerintah Provinsi NTB bekerjasaman dengan UNICEF dengan mitra kerjanya Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) NTB akan melaksanakan Assessment WASH (ReAssessment WASH) di semua Puskesmas di Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Timur. Untuk Kabupaten Lombok Barat merupakan yang pertama kali akan melakukan assessment WASH di semua Puskesmas sebagai bagian dari terlaksananya program Integrasi layanan primer di Puskesmas” tutur Ahmad Hidayat, selaku Direktur PKBI daerah NTB dalam sambutannya pada acara Pelatihan WASH FIT yang diselenggarakan pada 06 Februari 2024 bertempat di Ballroom Lombok Raya Hotel Mataram.
Dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan kegiatan tersebut, dilaksanakan pelatihan dan
pertemuaan koordinasi kepada petugas Puskesmas. Kegiatan yang dilaksanakan selama 1 hari yang melibatkan perwakilan kepala Puskesmas dan sanitarian dari 35 orang petugas puskemas dari 3 Kabupaten/Kota.
Yuni Riawati selaku WASH Officer Program PKBI NTB menyampaikan secara umum tujuan dari kegiatan ini antara lain: Terlaksananya koordinasi dan konsolidasi awal kepada semua pemangku kepentingan yang akan terlibat dalam kegiatan WASH FIT di Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat dan Kabupaten
Lombok Timur; kedua, Membangun pemahaman atau internalisasi instrument WASH FIT; dan yang terakhir Kesepakatan untuk keberlanjutan program WASH FIT kepada semua pemangku kepentingan di35 Puskesmas yang turut hadir pada kegiatan tersebut.

Acara yang dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Dr.dr, H. Lalu Hamzi Fikri, MM, MARS dalam sambutannya menuturkan “Saat ini 72.02 % usia harapan hidup sedikit demi sedikit mulai meningkat dan hal tersebut tidak terlepas dari adanya pendidikan dan kesehatan. Persoalan di NTB memiliki tantangan selain perilaku terdapat juga permasalahan lingkungan dan NTB pun sudah mulai mengintervensi pada tahun 2019 terutama di STBM.

Dan syukurnya 10 kabupaten/kota 5 pilar STBM yang sudah dipaparkan di Kementerian Kesehatan yang masih kurang terletak di Kabupaten Bima yang dimana pilar 4 dan 5 masih di angka 78,6%, selain dari itu rata-rata sudah 100% di 5 pilar sudah terterapkan. Dan yang terpenting ialah sustainable dari apa yang sudah dicapai agar tetap mempertahankan 5 pilar STBM, untuk itu penting kepada layanan kesehatan untuk meningkatkan dan memperhatikan  safety dan kesehatan dengan menyebar 5 pilar yang menyangkut keselamatan pasien, pengunjung, staff-staff  atau pegawai dari layanan kesehatan seperti puskesmas-puskesmas yang tersebar. “Terdapat laporan yang diterima yakni pada tahun 2019 ketersediaan kualitas air yang layak sudah pada tingkat yang baik di setiap Puskesmas yakni pada 75%, namun itu masih menempatkan  NTB pada peringkat ke 13 dari seluruh sektor Puskesmas di Indonesia. Lebih jauh ketersediaan cuci tangan  Puskesmasdi NTB mencapai 68.8%. Di tingkat nasional justru sudah mencapai angka 82.4% artinya terdapat gep disitu. Dari data tersebut masih ada 17.2% di Puskesmas di Provinsi NTB yang belum dapat menyediakan air, sanitasi, dan higiene yang baik. Jika sarana tersebut masih bermasalah tentu saja dipastikan perilaku higienis pencegahan dan PPI belum bisa dikerjakan. Dan berbicara tentang kualitas tentu saja tidak terlepas dari kualitas air dan juga sanitasi yang tersedia di layanan kesehatan yang ada” pungkasnya.

pada acara ini juga dihadiri oleh perwakilan dari WASH Specialis UNICEF Jakarta Bapak Mohammad Zainal dan WASH Officer UNICEF NTB NTT, Ibu Rostia La Ode Pado yang bergabung secara online. Pada kesempatan menyampaikan sambutan, M. Zainal memaparkan tentang pentingnya Layanan kesehatan lingkungan dan masyarakat menjadi prioritas yang utama dan hal tersebut memiliki peranan yang besar dalam hal meningkatkan kualitas layanan itu sendiri, WASH tanpa Kesling yang memadai di Fasyankes “tentu kita tidak bisa menjalankan  pencegahan dan pengendalian infeksi secara maksimal begitu juga dengan pencegahan untuk penurunan angka kematian bayi dan ibu sehingga pada tahun 2025 dan 2030 ditargetkan secara global. Kemudian melalui hubungan dari pemerintah Korea kini UNICEF men scan-up pendekatan WASH FIT ini di 7 kabupaten yakni 3 kabupaten di NTB, 2 kabupaten di Jawa tengah, dan 2 kabupaten di Jawa Timur.” ungkapnya.

Program WASH FIT ini bertujuan untuk meningkatkan layanan kesehatan hingga mencapai yang diinginkan yakni mencapai layanan dasar semacam ketersediaan air yang layak yang tersedia di Puskesmas-puskesmas terlebih pada 35 Puskemas yang telah terpilih. Selain itu, program WASH FIT ini  juga memperhatikan para disabilitas, dengan begitu diharapkan Faskes-faskes dapat menyediakan fasilitas-fasilitas yang dapat menunjang atau membantu mereka. Contoh saja penyediaan toilet khusus disabilitas pada Puskesmas. “Tidak hanya itu, perubahan iklim juga menjadi masalah yang perlu diperhatikan yang dimana hal tersebut dapat menjadi ancaman bagi layanan kesehatan seperti yang terjadi pada tahun lalu yakni terjadinya banjir yang mengenai Puskesmas, sehingga jika belajar dari kejadian tersebut sudah seharusnya layanan kesehatan lingkungan perlu untuk diperbaiki atau mungkin jika sudah ada hal itu perlu ditingkatkan lagi untuk dapat bertahan saat perubahan iklim terjadi. Dengan begitu, hadirnya program ini dapat menjadi contoh atau model untuk mengidentifikasi layanan Kesling apa yang harus didekatkan dalam sebuah Fasyankes.” tutup M Zainal. ***(My_MEL)

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
MEL-W

MEL-W

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita terbaru

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.